12 HAL PENYEBAB KEKALAHAN AHOK-JAROT - Kajian Pemerintahan

Thursday, April 20, 2017

12 HAL PENYEBAB KEKALAHAN AHOK-JAROT



12 HAL  PENYEBAB KEKALAHAN AHOK-JAROT

Walau sempat diunggulkan oleh sebahagian pihak akan menang pada putaran kedua Pilkada DKI Jakarta, pasangan Ahok-Jarok yang  mendapat dukungan mayoritas partai politik, Petahana yang disukai publik, loyalis tim sukses dan relawan, dukungan dana yang sangat kuat, dukungan media cetak dan elektronik, dan lain sebagainya, tetapi akhirnya Ahok-Jarot kalah berdasarkan hasil hitung cepat (quick count) dari hampir semua lembaga/konsultan yang melakukan hitung cepat.

Disisi lain Ahok-Jarot juga mengakui kekalahannya pada saat press confrence. Salah satu kalimat yang menarik dari pernyataan Ahok pada saat itu adalah “Kekuasaan itu tuhan yang kasih, tuhan yang ambil. Tidak ada seorangpun bisa menjabat tanpa seizin tuhan”. Artinya tanpa seizin Tuhan tidak akan ada kita umat manusia yang bisa menduduki jabatan tertentu.

Menarik untuk dicermati adalah apa yang menjadi penyebab kekalahan Ahok-Jarot dengan selisih persentase perolehan suara yang cukup besar ini, yang mencapai dua digit. Setelah ditelusuri,paling tidak patut ditenggarai terdapat 12 hal  yang menjadi penyebab kekalahan Ahok-Jarot yakni sebagai tersebut:

1.      Tipikal pemilih/pendukung agus-silvi lebih mirip dengan anis-sandi dari Ahok-Jarot, sehingga mayoritas pemilih/pendukung agus-silvi memilih anis-sandi pada putaran kedua.
2.      Munculnya dimedsos pembagian sembako yang cukup masif yang dilaksanakan oleh tim baju kotak-kotak menimbulkan rasa kurang simpati dan mengaburkan kesan “kejujuran” yang digadang-gadang dimiliki oleh Ahok.
3.      Ada beberapa kebijakan Ahok-Jarot yang dianggap oleh sebagian orang tidak pro rakyat kecil, misalnya penertiban kawasan pemukiman dengan penggusuran, reklamasi pantai utara dan lain sebagainya
4.      Gaya kepemimpinan Ahok yang tegas dan cendrung arogan menimbulkan sikap tidak simpati dari sebahagian masyarakat
5.      Perkara hukum yang membelenggu Ahok terkait dengan pernyataannya tentang surat Almaidah di Pulau seribu.
6.      Vidio kampanye Ahok-Djarot terkesan negatif dengan pihak tertentu dan diawali dengan kekerasan, berbeda dengan vidio kampanye anis-sandi yang penuh kesejukan.
7.      Adanya keinginan umat muslim untuk dipimpin oleh pemimpin muslim.
8.      Munculnya kompetitor segar dan baru yang dianggap mampu memberikan kesejukan yang karakternya sangat berbeda dengan karakter Ahok.
9.      Steven efek terhadap TGB Gubernur NTB di bandara Changi yang cukup viral, menghilangkan rasa simpati terhadap kaum tionghoa pada saat yang berdekatan dengan pilkada DKI.
10.   Pola kampanye udara yang digunakan ternyata sulit untuk mengungguli kampanye darat yang dilakukan oleh tim Anis-Sandi.
11.   Mesin partai ternyata tidak efektif untuk mendorong suara, padahal Ahok-Jarot didukung oleh koalisi gemuk dibanding Anis-Sandi
12.   Blunder-blunder yang dilakukan oleh Tim Ahok-Jarot dapat menggerus suara

Tentunya hasil penelusuran ini agar benar-benar valid perlu dilakukan pembuktian lebih lanjut dengan melakukan crosscek dengan pemilih DKI dan tim sukses Ahok-Jarot.

Semoga Bermanfaat,
Rahmat Hollyson
Direktur Riset Goverment Riset Institute (GRI)

Bagikan artikel ini

2 comments

  1. Yang paling utama alasannya adalah : Tuhan tidak memberi izin paslon no.2 menjabat DKI 1. Terlepas dari semua isu selama Pilkada baik yang real maupun yang diangkat menjadi "Real", apresiasi terhadap Petahana selama melayani rakyat DKI 2 tahun kebelakang perlu diberikan. Menjadi pola baru dalam penanganan Birokrasi dan Pemanfaatan uang rakyat setidaknya, hasil nyata yang telah dirasakan oleh semua kalangan tanpa bias.

    Salam sukses dan berkarya terus untuk Negeri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ternyata menguasai media, dana nga terbatas, disukai masyarakat tidak jadi jaminan untuk terpilih (bukan terpilih kembali sebagai gubernur, karena periode sebelumnya jadi wakil gunernur) tanpa seizin yang satu

      Delete